Selasa, 15 Desember 2020

Hadits-Hadits Tentang Niat Mandi Wajib yang Perlu Diketahui

Bagi orang muslim hukumnya wajib untuk membaca niat mandi wajib untuk menyucikan diri, seperti Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Umar bin Khattab. Bahwa sesungguhnya segala amal ibadah itu tergantung pada niatnya. Di bawah ini adalah beberapa hadits yang menerangkan perihal tata cara dan niat mandi wajib.

1. Hadits Pertama

Menurut Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah radhiyallahu’anha berkata, Ketika Nabi mandi dari janabah, beliau memulai dari mencuci tangan, kemudian berwudhu seperti akan sholat, lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan menyela dasar rambutnya, dilanjutkan menyiram kepala serta kedua tangannya sebanyak tiga kali, dan menyiram seluruh tubuh.

Dari hadits di atas dapat diketahui salah satu keutamaan Aisyah dan juga istri-istri Nabi yang lain, yaitu turut andil dalam menyampaikan ilmu agama yang bersifat privasi. Karena mereka yang bisa meriwayatkan tata cara dan niat mandi wajib Rasulullah secara rinci, juga sunnah-sunnah yang lain ketika beliau ada di dalam rumah.

Terdapat kata “kana” yang dalam bahasa Arab memiliki dua arti yakni, perbuatan masa lampau yang dimaksud Rasulullah “pernah” mandi junub, dapat juga di artikan “berulang-ulang” atau “berkesinambungan”, yang dapat bermakna bahwa Rasulullah senantiasa mandi junub (setelah jima’ dengan istrinya).

2. Hadits Kedua

Menurut Hadits Riwayat Muslim, Aisyah rahdiallahu’anha berkata bahwa, beliau melaksanakan niat mandi wajib bersama dengan Rasulullah, dan sama-sama mengambil air dari satu tempayan.

Dari hadits di atas, dapat dijadikan dalil bahwa suami-istri diperbolehkan mandi bersama. Bahkan menjadi sunnah karena di niatkan untuk meniru amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga sebagai dalil tentang bolehnya melihat kemaluan antara suami-istri.

3. Hadits Ketiga

Menurut Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Maimunah binti Al-Harits mengatakan bahwa: Ia menyiapkan untuk Nabi mandi junub. Kemudian beliau menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya sebanyak tiga kali.

Lalu mencuci kemaluannya, kemudian menggosok tangannya di tanah atau tembok  tiga kali. Selanjutnya berwudhu, kemudian menyiram kepala dan seluruh tubuh. Lalu bergeser untuk pindah tempat dan mencuci kedua kakinya. Saat ia memberikan kain (sebagai handuk), beliau memilih menyeka air di tubuhnya dengan kedua tangannya.

Dengan riwayat hadits di atas kita dapat melihat khidmat seorang istri terhadap suaminya. Sebagaimana yang di contohkan Maimunah ketika menyiapkan air mandi untuk beliau. Dijelaskan juga tahapan-tahapan mandi junub yang lebih rinci dari hadits yang disampaikan Aisyah sebelumnya. Dari sini dapat diketahui Nabi mencuci kemaluan dengan tangan kirinya.

Dalam mandi junub tidak diwajibkan untuk berwudhu meski ada riwayat dari Nabi. Allah berfirman bahwa, jika berjunub maka bersucilah. Selain itu di dalam Al-Quran tidak disebutkan tata cara mandi junub secara rinci. Berbeda dengan perihal wudhu yang disebutkan secara rinci tahapannya.

Ada juga hadits dari Imran bin Husein tentang sabda Nabi kepada sahabat, beliau memerintahkan agar mengambil air untuk ditumpahkan ke tubuhnya. Oleh karena itu, para ulama mengatakan, seorang yang junub masuk ke kolam air dengan niat mandi wajib, menggosok kepala dan membasahi seluruh tubuh, lalu keluar dari kolam, maka mandi junub dianggap sah meski tidak berwudhu.

Demikian beberapa informasi mengenai hadits-hadits yang mendukung dan menjelaskan mengenai tata cara mandi wajib. Meskipun berwudhu di sunnahkan dalam mandi junub, namun lebih afdhal (utama) untuk dilakukan. Karena senantiasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah Allah untuk mencontoh beliau.

0 komentar:

Posting Komentar